Pengalaman Operasi Caesar Tanpa Persiapan

Maret 06, 2018

Pengalaman melahirkan Fahim masih membekas di ingatan saya. Bagi yang pernah berkunjung ke rumah paska melahirkan pasti tahu bagaimana saya menceritakan pengalaman saya. Fahim bisa dibilang lahir mendadak. Betapa tidak, saya melahirkan dadakan saat awalnya hanya berencana kontrol kandungan. 

Kehamilan saya saat itu masuk di hitungan 40 minggu 2 hari. Tanpa persiapan apapun, saya datang kontrol ke dokter spesialis kandungan dengan perasaan biasa saja. 2 hari sebelumnya saat tepat usia 40 minggu, saya sudah kontrol ke bidan yang kebetulan tante saya yang memang menjadi tempat kontrol rutin kandungan saya (ini akan saya ceritakan terpisah). 

Dan semua kondisi baik-baik saja. Saat dicek, ketuban saya masih lumayan banyak, plasenta masih bagus dan kondisi bayi juga cukup untuk menunggu mules hingga saatnya ia memang pengen lahir. Memang, hingga usia 40 minggu, Fahim sama sekali tidak mengajak saya mules, ia belum menunjukkan tanda-tanda akan lahir dengan kontraksi yang hebat. Sesekali memang saya merasakan mules yang saya duga adalah kontraksi, tapi ternyata tetap tidak berlangsung lama. Ya tetap saja namanya kontraksi palsu. 

Kembali ke hari dimana saya kontrol tadi, saat dicek oleh dokter kandungan saya, ternyata ketuban saya sudah tinggal sedikit dan plasentanya juga sudah tua. Nah bisa dibayangkan kemudian dokter berkata apa? 'Operasi saja ya!' dan tidak tanggung-tanggung operasi ditawarkan hari itu juga, karena menurut beliau jika tidak langsung Fahim akan kekurangan cairan ketuban. Saya mencoba opsi di induksi saja, karena saya kekeuh ingin normal. 

Tapi ternyata dokter tidak mengiyakan karena sudah lewat due date, jika dipaksakan untuk induksi yang akan memakan waktu lama, bisa-bisa Fahim stres katanya. Allahualam. Saya dan suami panik dan saya nangis-nangis. Kami pun menelpon tante bidan kami, ternyata tidak diangkat. Waktu pun mepet untuk jumatan. Akhirnya dengan keyakinan berdua, yasudah ditandatangani saja surat persetujuan operasinya. Allah berkata ya memang harus begini jalannya. Anak pertama, kami serba bingung. 

Setelah selesai mengurus semua, saya ditinggal suami jumatan, dan saya pun melaksanakan serangkaian persiapan untuk operasi jam 14.00. Segera saya mengabari ibu saya yang kebetulan sedang reunian dengan temannya di salah satu mall di Bekasi. Saat ibu saya datang, kemudian suami saya pulang ke rumah untuk mengambil segala perlengkapan yang memang sudah saya kemas di 2 tas, 1 tas kebutuhan Fahim & 1 tas kebutuhan saya. 

Tidak lupa juga, suami mengabari mertua untuk segera datang ke RS. Tidak lama setelah itu, saya masuk ruang operasi sendirian pukul 13.00. Dalam ruangan saya tidak langsung operasi, saya harus menunggu antrian dan masih ada proses lainnya. Tepatnya jam 13.45 seingat saya, saya mulai dianatesi dan siap menjalani operasi. 

Rasanya? Subhanallah! Operasi tanpa persiapan alhasil membawa saya dalam ketakutan. Saya tidak berhenti bertanya ke suster bagaimana rasanya. Kemudian saat dianastesi saya bisa mencubit tangan suster sebagai bentuk luapan ketakutan saya sekalian. Padahal saya tahu itu sedang dibius lokal, tapi saya merasa benar-benar seperti melayang. Saya gak sadar! Bahkan saat Fahim dikeluarkan dan menangis dokter mengatakan kepada saya 'Alhamdulillah ya bu, laki-laki, apa mau dilihat dulu?' Saya mengatakan 'Sudah dokter, saya pusing'. Kalau bisa dipikir kasian sekali Fahim tidak saya peluk. Kalau teman-teman lain bisa berfoto bersama anaknya sesaat setelah lahiran, saya? boro-boro! 

Sesaat setelah melahirkan saya baru sadar seakan-seakan saya habis bermain roller coster, rasanya perut abis diaduk-aduk. Tapi berkali-kali bilang sama suami kalau saya teriak-teriak ke dokter, 'sakit dok... sakit' dan dokter menimpali dengan 'sabar bu, tidak sakit, tenang bu...' Yang kalau diingat-ingat sekarang menjadi lelucon bagi saya, kok saya bisa meracau-racau tidak jelas di depan orang asing ya. 

Tapi segala sesuatu yang saya rasakan tadi, seketika hilang ketika saya melihat Fahim. Fahim baru dibawa ke kamar pagi hari di hari kedua. Saya langsung belajar menyusui Fahim. Alhamdulillah Fahim memang tidak diberikan apapun sebelumnya oleh pihak RS, karena jika diberikan susu tambahan harus seijin orang tua. Fahim langsung belajar menyusui bersama saya, dan anaknya sudah seperti mahir banget menyusunya, tanpa basa basi dia bisa langsung mengenyot puting. Dalam hati saya berpikir Alhamdulillah anaknya bebas drama, beda dari emaknya. 

Nah apa bagian penting dari pengalaman saya itu bu? Ada beberapa saran yang mungkin bisa saya bagi berdasarkan pengalaman saya sehingga ibu-ibu semua tidak perlu merasakan pengalaman melahirkan dadakan dengan suasana menegangkan seperti saya. Berikut beberapa pelajaran yang mungkin bisa saya bagi :

1. Ibu harus mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi
Bagaimana maksudnya? Sejujurnya bu, saya ini sama sekali tidak mempersiapkan mental untuk lahiran operasi, terutama yang dadakan. Selama kehamilan saya selalu mengafirmasi diri saya untuk lahiran normal, karena saya sangat takut sekali melahirkan jadi saya cari tahu hanya tentang lahiran normal sampai akhirnya segala pertanyaan tentang lahiran normal bisa saya temukan jawabannya. Tapi bagaimana dengan lahiran operasi? Sama sekali tidak saya cari tahu. Pelajarannya, seharusnya memang kita sebagai calon ibu mencari tahu seluk beluk tentang lahiran normal dan operasi, karena apapun yang terjadi saat lahiran sebenarnya adalah takdir dari Allah akan cara lahirnya anak kita. Dan insyaallah persiapan itu akan saya lakukan di anak kedua 😀

2. Berpikir positif
Saya adalah orang yang selalu was-was dan gampang menambah beban pikiran. Susah sekali menanamkan pikiran positif terlebih ketika menghadapi persalinan. Bukan memikirkan hal-hal yang mudah, tapi saya justru memikirkan hal-hal buruk dan mendengar pengalaman menegangkan tentang melahirkan. Maksud hati sebenarnya ingin mengambil pelajaran, tapi ternyata malah jadi bahan pikiran. Ini sebenarnya adalah sesuatu yang salah banget bu, seharusnya mendekati persalinan bacaannya yang senang-senang saja, mendengar cerita yang positif saja dan tanpa mencari tahu susahnya persalinan. Berkumpul dengan orang yang memberikan pengaruh positif dan kemudian berhenti untuk bermain dengan pikiran kamu sendiri. Karena kamu adalah yang kamu pikirkan. Jika kamu berpikir itu mudah maka mudahlah semua. Semoga ibu-ibu tidak mencontoh saya ya.

3. Mempersiapkan segala perlengkapan persalinan di kendaraan
Ini juga harus dipersiapkan secara matang bu ternyata. Sebelumnya saya memang banyak dikasih tahu tentang mulai menaruh barang persalinan di mobil sebelum melahirkan. Tapi saya yang lalai begini begitu santai dengan tidak segera menaruhnya. Selain karena mobilnya ada di rumah mertua, juga saya pikir gak akan seekstrem itulah, masih sempat untuk ngambil. Tapi ternyata, suami saya harus pulang ke rumah mengambil perlengkapan dan akhirnya tidak mengantarkan saya ke depan pintu ruang operasi.

4. Terima dengan ikhlas bagaimanapun caranya
Nah ini, setelah melahirkan jujur saja saya merasa gagal kenapa saya tidak bisa menjalani persalinan normal. Tiap ada yang menjenguk saya selalu menyampaikan 'sebenarnya pengen lahiran normal ya tapi ga bisa'. Seperti ada rasa penyesalan. Padahal mungkin yang ngobrol sama saya tidak bertanya. Sempat berlangsung lumayan lama saya berkecil hati, tapi lama kelamaan saya mikir, apa iya kalau saya normal Fahim bisa sesehat ini? Apa iya jika normal saya bisa memeluk Fahim seperti sekarang? Intinya sih, semua sudah ada yang mengaturnya ya bu, Allah SWT. 

Dan Allah tidak menakdirkan suatu yang buruk bagi hambanya insyallah. Jadi kita kudu ikhlas. Banyak juga teman-teman saya yang bercerita bahwa mereka mendapatkan judging dari sekitarnya paska melahirkan operasi. Dan akhirnya terjadilah perdebatan lahiran normal vs lahiran operasi. Terlebih begitu ada salah seorang selebritis yang dengan mantab di videonya menjalani persalinan normal, banyak netijen berkomentar tentang hal tersebut. Di sini saya tidak mau memberikan perbandingan atas kedua proses persalinan ini. Tapi cara saya adalah untuk terus bersyukur saja, Alhamdulillah sekarang Fahim tumbuh sehat dan saya bisa pulih paska melahirkan. Menurut saya itu saja cukup, bagaimana lahirannya alhamdulillah sudah dipilihkan Allah. Dan seorang ibu itu tidak diukur dari cara melahirkannnya kan? Karena pada dasarnya semua ibu itu hebat, membawa anak yang beratnya 2-4 kilo selama 9 bulan. Mengeluarkan dengan proses yang cuma dia dan Allah yang tahu rasanya dan mencintai tanpa batas si buah hati hingga tua nanti adalah suatu anugerah yang luar biasa bukan? Kita patut bersyukur akan hal itu. Alhamdulillah.

Nah ini cerita pengalaman persalinan saya, bagaimana dengan ibu lain? Karena jadi ibu itu ternyata asik! 

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Most Popular